Postingan

Mengobral Anak Gadis

Gambar
Orang tua ketika anak gadisnya dilamar oleh seorang pemuda, secara intuisi pasti akan memasang mode waspada. Mereka akan bertanya tentang bagaimana latar belakang pemuda tersebut, anak siapa, dari daerah mana, sudah bekerja atau belum, kalau sudah bekerja berapa penghasilannya, pendidikannya bagaimana, dan seabrek pertanyaan kritis lainnya. Itu semua dilakukan sebab mereka amat menyayangi anak gadis mereka dan berusaha memastikan masa depan yang lebih baik baginya. Namun semua kewaspadaan itu nyaris tidak berlaku bila konteksnya adalah pacaran. Banyak orang tua di zaman ini yang memaklumi bila anak gadisnya pacaran di sekolah. Tidak terlalu penting dengan siapa, yang penting tidak untuk dinikahi, sebab pacaran dianggap hanya "kebiasaan anak muda" yang harus dimaklumi di zaman ini. Putrinya diajak jalan-jalan berduaan saja boleh; dipegang-pegang dan dicium juga boleh selama tidak di depan mata orang tuanya; bahkan diapa-apain sebenarnya juga boleh dan dimaklumi asalkan tidak h...

Nasehat Bagi Seorang Alim Agar Tidak Tinggal di Kampung Terpencil

Di antara nasehat panjang Imam Malik kepada Imam Syafi'i sebelum mereka berpisah, «لَا تَسْكُنْ الرِّيفَ يَذْهَبْ عِلْمُك، وَاكْتَسِبْ الدِّرْهَمَ لَا تَكُنْ عَالَةً عَلَى النَّاسِ...» [شرح مختصر خليل للخرشي (1/35)] "Jangan tinggal di kampung nanti ilmumu hilang (tidak berkembang)..." Imam Malik tahu bahwa Imam Syafi'i punya potensi besar jadi ulama hebat, sehingga jangan sampai keluasan ilmunya nanti hilang begitu saja. Dan benar, beliau kemudian "tinggal" di kota-kota besar seperti Bagdhad, Hijaz, dan Mesir. Dan ilmu beliau tersebar dan terjaga sampai sekarang. Tentu ini tidak mutlak berlaku untuk semua kampung, illah-nya adalah jika di kampung tersebut antusias belajar penduduknya sangat-sangat minim sehingga berpotensi meredupkan keilmuan si alim tersebut. Dalam Ihya, Imam Ghazali menceritakan bahwa suatu kali Imam Sufyan Al-Tsauri datang ke Asqolan dan tinggal beberapa hari di sana, biasanya jika beliau singgah di suatu tempat, nama beliau yg masyhur me...

Puisi Unik, Masa Ottoman dan Mamluk

Gambar
  Pertama kali melihat gambar lingkaran di atas, saya kira adalah jimat sejenis rajah. Saya perhatikan huruf perhuruf, kata dan kalimat, ternyata bukan. Ia adalah bait-bait indah puisi Arab masa lalu.  Ia contoh seni sastra dalam bentuk شعر الدائرة (syi'r al-dairah) atau puisi lingkaran, yang populer pada masa Dinasti Mamluk dan Ottoman (ustmaniyah). Aha, ini penting untuk dicari contoh lainnya.  Bentuk puisi ini adalah bagian dari inovasi sastra (ibda' al-adab al-araby) di era tersebut, namun seiring waktu mulai ditinggalkan. Sayangnya, puisi-puisi seperti di atas, sering menghilang dan bahkan lenyap, bila tidak ada generasi setelahnya yang melanjutkan, baik puisi tentang politik, sosial, dan lainnya, dan juga kurangnya naqit yang peduli tentang karya seperti di atas. Setelah dilacak di beberapa referensi saya menemukan keterangan cukup asyik. Bahwa puisi ini dimulai dari pusat lingkaran dengan huruf 'ع' dan berbunyi عشقتكَ نورا من مقامك يسطع * وعيني غدت من فرط عشقك تد...