Tabarruk
التبرﻙ ﻟﻐﺔ: ﻃﻠﺐ اﻟﺒﺮﻛﺔ، ﻭاﻟﺒﺮﻛﺔ ﻫﻲ: اﻟﻨﻤﺎء ﻭاﻟﺰﻳﺎﺩﺓ، ﻗﺎﻝ اﻟﺮاﻏﺐ اﻷﺻﻔﻬﺎﻧﻲ: اﻟﺒﺮﻛﺔ ﺛﺒﻮﺕ اﻟﺨﻴﺮ اﻹﻟﻬﻲ ﻓﻲ اﻟﺸﻲء.
ﻭﻋﻠﻰ ﻫﺬا ﻓﺎﻟﻤﻌﻨﻰ اﻻﺻﻄﻼﺣﻲ للتبرك ﻫﻮ: ﻃﻠﺐ ﺛﺒﻮﺕ اﻟﺨﻴﺮ اﻹﻟﻬﻲ ﻓﻲ اﻟﺸﻲء. الموسوعة الفقهية
Tabarruk secara bahasa bermakna mengharap berkah. Sedangkan berkah bermakna berkembang dan bertambah. Imam Roghib al Asfihan berkata: berkah adalah tetapnya kebaikan ilahi dalam sesuatu. Sehingga makna tabarruk menurut ishtilah adalah mengharap tetapnya kebaikan ilahi yang terdapat pada sesuatu.
Dalil anjuran tabarruk.
Ada banyak sekali dalil yang menjelaskan kebolehan, bahkan anjuran tabarruk. Kita sebutkan sebagiannya saja.
1. Tabarruk dengan ludah Nabi:
ﻗﺎﻝ ﻓﻮاﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﺗﻨﺨﻢ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻧﺨﺎﻣﺔ ﺇﻻ ﻭﻗﻌﺖ ﻓﻰ ﻛﻒ ﺭﺟﻞ ﻣﻨﻬﻢ ﻓﺪﻟﻚ ﺑﻬﺎ ﻭﺟﻬﻪ ﻭﺟﻠﺪﻩ (ﺭﻭاﻩ اﻟﺒﺨﺎﺭﻯ
70 ﻭ 2731)
Miswar dan Marwan berkata: Demi Allah Setiap Rasulullah berdahak, pasti dahak beliau jatuh ke tangan salah seorang sahabat, lalu ia gosokkan ke wajah dan kulitnya. (HR Bukhari No 70 dan 2731)
ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺯﻭﺝ اﻟﻨﺒﻰ -ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ- ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ -ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ- ﻛﺎﻥ ﻳﺆﺗﻰ ﺑﺎﻟﺼﺒﻴﺎﻥ ﻓﻴﺒﺮﻙ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻭﻳﺤﻨﻜﻬﻢ (ﺭﻭاﻩ ﻣﺴﻠﻢ 688)
Diriwayatkan dari Aisyah bahwa bayi-bayi didatangkan kepada Rasulullah. kemudian beliau mendoakan berkah dan memamah makanan kepada mereka. (HR Muslim No 688)
Imam Nawawi dalam Syarh Shohih Muslim berkata:
ﻭﻣﻨﻬﺎ التبرﻙ ﺑﺂﺛﺎﺭ الصاﻟﺤﻴﻦ ﻭﺭﻳﻘﻬﻢ ﻭﻛﻞ ﺷﻲء ﻣﻨﻬﻢ
Termasuk dari faidah Hadits tahnik adakah bertabarruk dengan atsar para sholihin, ludah mereka, dan segala sesuatu dari mereka.
(ﻋﻦ ﺃﺑﻰ ﻣﻮﺳﻰ ﻭﺑﻼﻝ) ﺛﻢ ﺩﻋﺎ ﺑﻘﺪﺡ ﻓﻴﻪ ﻣﺎء ﻓﻐﺴﻞ ﻳﺪﻳﻪ ﻭﻭﺟﻬﻪ ﻓﻴﻪ ، ﻭﻣﺞ ﻓﻴﻪ ، ﺛﻢ ﻗﺎﻝ « اﺷﺮﺑﺎ ﻣﻨﻪ ، ﻭﺃﻓﺮﻏﺎ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻮﻫﻜﻤﺎ ﻭﻧﺤﻮﺭﻛﻤﺎ ، ﻭﺃﺑﺸﺮا » . ﻓﺄﺧﺬا اﻟﻘﺪﺡ ﻓﻔﻌﻼ (ﺭﻭاﻩ اﻟﺒﺨﺎﺭﻯ 4328
ﻭﻣﺴﻠﻢ 6561)
Rasulullah menyuruh kepada Abu Musa dan Bilal untuk mengambil tempat air, lalu beliau membasuh kedua tangan dan wajahnya dan memuntahkan air kumur ke wadah tersebut dan beliau bersabda: Minumlah oleh kalian, siramkan ke wajah dan leher kalian, dan bersenanglah. Kemudian dua sahabat itu melakukannya” (HR Bukhari 4328 - Muslim No 6561)
Ibn Hajar, dalam Fathul Bari berkata:
ﻭاﻟﻐﺮﺽ ﺑﺬﻟﻚ ﺇﻳﺠﺎﺩ اﻟﺒﺮﻛﺔ ﺑﺮﻳﻘﻪ اﻟﻤﺒﺎﺭﻙ
Tujuan tindakan di atas adalah memunculkan berkah dari ludah Rasulullah yang penuh berkah.
2. Bertabarruk dengan bekas bibir mulia Nabi.
ﻋﻦ ﻛﺒﺸﺔ اﻷﻧﺼﺎﺭﻳﺔ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺩﺧﻞ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭﻋﻨﺪﻫﺎ ﻗﺮﺑﺔ ﻣﻌﻠﻘﺔ ﻓﺸﺮﺏ ﻣﻨﻬﺎ ﻭﻫﻮ ﻗﺎﺋﻢ ﻓﻘﻄﻌﺖ ﻓﻢ اﻟﻘﺮﺑﺔ ﺗﺒﺘﻐﻲ ﺑﺮﻛﺔ ﻣﻮﺿﻊ ﻓﻲ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ (ﺭﻭاﻩ اﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻭاﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻭﻗﺎﻝ ﺣﺴﻦ ﺻﺤﻴﺢ ﻏﺮﻳﺐ)
Dari Kabsyah al-Anshariyah bahwa Rasulullah datang kepadanya dan di sebelahnya atau tempat air minum yang digantung, kemudian beliau meminum-nya dengan posisi berdiri. Kabsyah lalu memotong (bekas) tempat minum Rasulullah tersebut untuk mendapatkan berkah dari mulut Rasulullah . (HR. Ibnu Majah dan Turmudzi, ia berkata: Hadits ini Hasan Sahih Gharib)
3. Bertabarruk dengan jubah Nabi.
ﻗﺎﻟﺖ (ﺃﺳﻤﺎء) ﻫﺬﻩ ﻛﺎﻧﺖ ﻋﻨﺪ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺣﺘﻰ ﻗﺒﻀﺖ ﻓﻠﻤﺎ ﻗﺒﻀﺖ ﻗﺒﻀﺘﻬﺎ ﻭﻛﺎﻥ اﻟﻨﺒﻰ -ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ- ﻳﻠﺒﺴﻬﺎ ﻓﻨﺤﻦ ﻧﻐﺴﻠﻬﺎ ﻟﻠﻤﺮﺿﻰ ﻳﺴﺘﺸﻔﻰ ﺑﻬﺎ. (ﺭﻭاﻩ ﻣﺴﻠﻢ 5530 ﻭاﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ اﻟﻤﻔﺮﺩ ﻓﻲ اﻷﺩﺏ ﻛﺎﻥ ﻳﻠﺒﺴﻬﺎ ﻟﻠﻮﻓﺪ ﻭﻟﻠﺠﻤﻌﺔ)
Asma’ binti Abu Bakar berkata: Jubah ini (pada mulanya) dipegang oleh Aisyah sampai ia wafat. Setelah wafat saya ambil jubah tersebut. dan Rasulullah pernah memakainya. Kami membasuhnya untuk orang-orang yang sakit, kami mengharap kesembuhan melalui jubah tersebut. (HR. Abu Dawud dan Muslim. Sedangkan riwayat al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dijelaskan bahwa Rasulullah memakai jubah tersebut untuk menemui tamu dan salat Jumat)
4. Bertabarruk dengan rambut Nabi.
ﻣﺠﻤﻊ اﻟﺰﻭاﺋﺪ ﻭﻣﻨﺒﻊ اﻟﻔﻮاﺋﺪ - ﺟ 4 / ﺻ 279
ﻭﻋﻦ ﺟﻌﻔﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺑﻦ اﻟﺤﻜﻢ ﺃﻥ ﺧﺎﻟﺪ ﺑﻦ اﻟﻮﻟﻴﺪ ﻓﻘﺪ ﻗﻠﻨﺴﻮﺓ ﻟﻪ ﻳﻮﻡ اﻟﻴﺮﻣﻮﻙ ﻓﻘﺎﻝ اﻃﻠﺒﻮﻫﺎ ﻓﻠﻢ ﻳﺠﺪﻭﻫﺎ ﻓﻘﺎﻝ اﻃﻠﺒﻮﻫﺎ ﻓﻮﺟﺪﻭﻫﺎ ﻓﺈﺫا ﻫﻲ ﻗﻠﻨﺴﻮﺓ ﺧﻠﻘﺔ ﻓﻘﺎﻝ ﺧﺎﻟﺪ اﻋﺘﻤﺮ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﺤﻠﻖ ﺭﺃﺳﻪ ﻓﺎﺑﺘﺪﺭ اﻟﻨﺎﺱ ﺟﻮاﻧﺐ ﺷﻌﺮﻩ ﻓﺴﺒﻘﺘﻬﻢ ﺇﻟﻰ ﻧﺎﺻﻴﺘﻪ ﻓﺠﻌﻠﺘﻬﺎ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ اﻟﻘﻠﻨﺴﻮﺓ ﻓﻠﻢ ﺃﺷﻬﺪ ﻗﺘﺎﻻ ﻭﻫﻲ ﻣﻌﻲ اﻻ ﺭﺯﻗﺖ اﻟﻨﺼﺮ. ﺭﻭاﻩ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻭﺃﺑﻮ ﻳﻌﻠﻰ ﺑﻨﺤﻮﻩ ﻭﺭﺟﺎﻟﻬﻤﺎ ﺭﺟﺎﻝ اﻟﺼﺤﻴﺢ.
Diriwayatkan dari Ja’far Bin Abdillah Bin al-hakam : bahwa sesungguhnya Kholid kehilangan songkoknya pada peristiwa terjadinya perang Yarmuk, lalu ia berkata : kalian carilah songkok itu, mereka tidak menemukannya, Kholid berkata lagi : kalian carilah songkok itu ! akhirnya mereka menemukannya, ternyata sonkok itu sudah lusuh. Kholid berkata : Rasulullah pernah menunaikan ‘Umrah lalu Beliau mencukur rambutnya, maka dengan segera orang-orang berada disekitar rambut Nabi, lalu aku mendahului mereka menuju rambut ubun-ubun Rasulullah, lalu aku menaruhnya di dalam songkokku, maka aku tidak pernah mendatangi perang dengan membawa songkok tersebut (yang berisi rambut Rasulullah), kecuali setiap peperangan saya selalu diberi kemenangan” (HR Thabrani dan Abu Ya’la, para perawinya adalah perawi hadis sahih).
Dan masih banyak sekali Hadits yang menjelaskan tentang tabarruk dengan segala sesuatu yg berkaitan dengan Nabi. Bahkan Imam Bukhori, membuat bab khusus dalam kitab shohihnya dengan judul:
ﺑﺎﺏ ﻣﺎ ﺫﻛﺮ ﻣﻦ ﺩﺭﻉ اﻟﻨﺒﻰ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻭﻋﺼﺎﻩ ﻭﺳﻴﻔﻪ ﻭﻗﺪﺣﻪ ﻭﺧﺎﺗﻤﻪ . ﻭﻣﺎ اﺳﺘﻌﻤﻞ اﻟﺨﻠﻔﺎء ﺑﻌﺪﻩ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻣﻤﺎ ﻟﻢ ﻳﺬﻛﺮ ﻗﺴﻤﺘﻪ ، ﻭﻣﻦ ﺷﻌﺮﻩ ﻭﻧﻌﻠﻪ ﻭﺁﻧﻴﺘﻪ ، ﻣﻤﺎ ﻳﺘﺒﺮﻙ ﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ ﺑﻌﺪ
ﻭﻓﺎﺗﻪ . (ﺻﺤﻴﺢ اﻟﺒﺨﺎﺭﻯ - ﺟ 11 / ﺻ 204)
Bab yang menyebutkan tentang baju perang Nabi, tongkatnya, pedangnya, tempat minumnya dan cincinnya, dan yang dipakai oleh para khalifah setelah beliau, yang terdiri dari hal-hal yang tidak disebut pembagiannya, juga tentang rambut Nabi, sandalnya dan wadah makanannya, yang berupa benda-benda yang dicari berkahnya oleh para sahabat dan lainnya setelah wafatnya nabi” (sahih bukhari 11/204)
Maka sungguh sangat mengherankan jika ada kelompok yang mengaku berpegang teguh pada sunnah, tapi tidak mengetahui bahkan menginkarinya.
Apakah Tabarruk hanya boleh kepada sesuatu yang berkaitan dengan Nabi?
Jawabnya adalah tidak. Tabarruk tetap dianjurkan terhadap sesuatu yang berkaitan dengan orang-orang Sholih, walaupun bukan Nabi.
Terkait dengan hadits shohabat 'Itban bin Malik, yang mana beliau meminta agar Nabi berkenan sholat di rumahnya, Imam Nawawi berkata:
ﻭﻣﻨﻬﺎ التبرﻙ ﺑﺎلصاﻟﺤﻴﻦ ﻭﺁﺛﺎﺭﻫﻢ ﻭاﻟﺼﻼﺓ ﻓﻲ اﻟﻤﻮاﺿﻊ اﻟﺘﻲ ﺻﻠﻮا ﺑﻬﺎ
Termasuk faidah dari hadits di atas adalah tabarruk dengan atsarnya orang sholih, sholat di tempat di mana orang sholih tersebut sholat.
ﻓﻔﻴﻪ التبرﻙ ﺑﺂﺛﺎﺭ الصاﻟﺤﻴﻦ ﻭاﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﻓﻀﻞ ﻃﻬﻮﺭﻫﻢ ﻭﻃﻌﺎﻣﻬﻢ ﻭﺷﺮاﺑﻬﻢ ﻭﻟﺒﺎﺳﻬﻢ
Dalam hadits tersebut (hadits tentang shohabat mengambil berkah dari air sisa wudhu Nabi) terdapat anjuran mencari berkah dengan atsar para sholih, menggunakan sisa air bersucinya, makanannya, minumannya, dan pakaiannya.
Ibn Hajar dalam fatawa fiqhiyah berkata:
ﻧﻌﻢ ﻳﺘﺄﻛﺪ ﻧﺪﺏ اﺣﺘﺮاﻡ ﻧﺤﻮ اﻟﻤﺪاﺭﺱ ﻭاﻟﺮﺑﻂ ﻭﻣﺤﺎﻝ اﻟﻌﻠﻤﺎء ﻭاﻟﺼﻠﺤﺎء ﻭﻛﻞ ﻣﺤﻞ ﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻧﺰﻟﻪ ﺃﻭ ﺻﻠﻰ ﻓﻴﻪ ﻓﻠﻪ ﻓﻀﻞ ﻋﻈﻴﻢ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮﻩ ﻋﻠﻰ ﻣﻤﺮ اﻟﺪﻫﺮ ﻓﻴﺘﺄﻛﺪ اﻻﻋﺘﻨﺎء ﺑﺘﺤﺮﻱ ﻧﺰﻭﻟﻪ ﻭاﻟﺘﺒﺮﻙ ﺑﻪ ﻛﻤﺎ ﻛﺎﻥ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻭﻏﻴﺮﻩ - ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ - ﻳﻔﻌﻠﻮﻥ ﺫﻟﻚ ﺑﻌﺪ ﻭﻓﺎﺗﻪ.
Sangat dianjurkan memulyakan semisal madrasah, pondok, dan tempat para Ulama dan Sholihin, dan setiap tempat yang diketahui bahwa Nabi pernah singgah atau sholat di situ. Maka pada tempat2 itu terdapat keutamaan yg agung yang mengalahkan tempat lain sepanjang masa.
Bertabarruk dengan orang2 Sholih juga merupakan kebiasaan yang sudah dilakukan oleh para pendahulu kita. Diantaranya:
- Imam Syafi'i bertabarruk dengan makam Imam Abu Hanifah.
ﻋﻦ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﻣﻴﻤﻮﻥ ﻗﺎﻝ ﺳﻤﻌﺖ اﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻳﻘﻮﻝ اﻧﻲ ﻷﺗﺒﺮﻙ ﺑﺄﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻭﺃﺟﻲء ﺇﻟﻰ ﻗﺒﺮﻩ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﻳﻌﻨﻲ ﺯاﺋﺮا ﻓﺈﺫا ﻋﺮﺿﺖ ﻟﻲ ﺣﺎﺟﺔ ﺻﻠﻴﺖ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ ﻭﺟﺌﺖ ﺇﻟﻰ ﻗﺒﺮﻩ ﻭﺳﺄﻟﺖ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ اﻟﺤﺎﺟﺔ ﻋﻨﺪﻩ ﻓﻤﺎ ﺗﺒﻌﺪ ﻋﻨﻲ ﺣﺘﻰ ﺗﻘﻀﻰ.
اﻟﺤﺎﻓﻆ اﻟﺨﻄﻴﺐ اﻟﺒﻐﺪاﺩﻱ ﻓﻲ ﺗﺎﺭﻳﺦ ﺑﻐﺪاﺩ ﺟ : 1 ﺻ : 123 ﻭﻋﺒﺪ اﻟﻘﺎﺩﺭ اﺑﻦ اﺑﻲ اﻟﻮﻓﺎ ﻓﻲ ﻃﺒﻘﺎﺕ اﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﺟ : 2 ﺻ :
Dari Ali bin Maimun, ia berkata: Saya mendengar Syafi'i berkata bahwa: Saya mencari berkah dengan mendatangi makam Abu Hanifah. Jika saya memiliki hajat maka saya salat dua rakaat dan saya mendatangi makam Abu Hanifah. Saya meminta kepada Allah di dekat makam Abu Hanifah. Tidak lama kemudian hajat saya dikabulkan. (al-Hafidz Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad I/123 dan Ibnu Abi Wafa dalam Thabaqat al-Hanafiyah II/519)
- Imam Ahmad membolehkan dan melakukan tabarruk.
ﺳﺄﻟﺘﻪ ﻋﻦ اﻟﺮﺟﻞ ﻳﻤﺲ ﻣﻨﺒﺮ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻳﺘﺒﺮﻙ ﺑﻤﺴﻪ ﻭﻳﻘﺒﻠﻪ ﻭﻳﻔﻌﻞ ﺑﺎﻟﻘﺒﺮ ﻣﺜﻞ ﺫﻟﻚ ﺃﻭ ﻧﺤﻮ ﻫﺬا ﻳﺮﻳﺪ ﺑﺬﻟﻚ اﻟﺘﻘﺮﺏ ﺇﻟﻰ اﻟﻠﻪ ﺟﻞ ﻭﻋﺰ ﻓﻘﺎﻝ ﻻ ﺑﺄﺱ ﺑﺬﻟﻚ
(اﻟﻌﻠﻞ ﻭﻣﻌﺮﻓﺔ اﻟﺮﺟﺎﻝ ﻻﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ 2 / 492 ﺭﻗﻢ 3243)
Saya (Abdullah bin Ahmad) bertanya kepada Imam Ahmad tentang seseorang yang memegang mimbar Nabi Saw, mencari berkah dengan memegangnya dan menciumnya. Ia juga melakukannya dengan makam Rasulullah seperti diatas dan sebagainya. Ia lakukan itu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Imam Ahmad menjawab: Tidak apa-apa. (Ahmad bin Hanbal al-'lal wa Ma'rifat al-Rijal 3243)
Dalam kitab al Adab as Syar'iyah, Imam Ibn Muflih menyebutkan bahwa Imam Ahmad bertabarruk dengan jubah Imam Yahya bin Yahya:
الأدب الشرعية والمنح المرعية ج: 2 ص: 235
ﻭﻗﺎﻝ اﻟﻤﺮﻭﺫﻱ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ اﻟﻮﺭﻉ ﺳﻤﻌﺖ ﺃﺑﺎ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﻳﻘﻮﻝ ﻗﺪ ﻛﺎﻥ ﻳﺤﻴﻰ ﺑﻦ ﻳﺤﻴﻰ ﺃﻭﺻﻰ ﻟﻲ ﺑﺠﺒﺘﻪ ﻓﺠﺎءﻧﻲ ﺑﻬﺎ اﺑﻨﻪ ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻲ ﻓﻘﻠﺖ ﺭﺟﻞ ﺻﺎﻟﺢ ﻗﺪ ﺃﻃﺎﻉ اﻟﻠﻪ ﻓﻴﻬﺎ ﺃﺗﺒﺮﻙ ﺑﻬﺎ
- Imam Taqiyuddin as Subki bertabartuk dengan karpet bekas duduk Imam Nawawi.
Disebutkan oleh Imam Tajuddin as subki dalam kitab Thobaqoh Syafiiyah Kubro, bahwa ayahnya, Imam Taqiyuddin as Subki bertabarruk dengan cara mengguling-gulingkan wajahnya di karpet yang biasa diduduki Imam Nawawi mengajar.
الطبقات الشافعية الكبرى ج: 8 ص: 396
ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺜﻬﻤﺎ ﺃﻧﻪ ﺃﻋﻨﻲ اﻟﻮاﻟﺪ ﺭﺣﻤﻪ اﻟﻠﻪ ﻟﻤﺎ ﺳﻜﻦ ﻓﻲ ﻗﺎﻋﺔ ﺩاﺭ اﻟﺤﺪﻳﺚ اﻷﺷﺮﻓﻴﺔ ﻓﻲ ﺳﻨﺔ اﺛﻨﺘﻴﻦ ﻭﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﻭﺳﺒﻌﻤﺎﺋﺔ ﻛﺎﻥ ﻳﺨﺮﺝ ﻓﻲ اﻟﻠﻴﻞ ﺇﻟﻰ ﺇﻳﻮاﻧﻬﺎ ﻟﻴﺘﻬﺠﺪ ﺗﺠﺎﻩ اﻷﺛﺮ اﻟﺸﺮﻳﻒ ﻭﻳﻤﺮﻍ ﻭﺟﻬﻪ ﻋﻠﻰ البساﻁ ﻭﻫﺬا البساﻁ ﻣﻦ ﺯﻣﺎﻥ اﻷﺷﺮﻑ اﻟﻮاﻗﻒ ﻭﻋﻠﻴﻪ اﺳﻤﻪ ﻭﻛﺎﻥ اﻟﻨﻮﻭﻱ ﻳﺠﻠﺲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻗﺖ اﻟﺪﺭﺱ ﻓﺄﻧﺸﺪﻧﻲ اﻟﻮاﻟﺪ ﻟﻨﻔﺴﻪ
(ﻭﻓﻲ ﺩاﺭ اﻟﺤﺪﻳﺚ ﻟﻄﻴﻒ ﻣﻌﻨﻰ ... ﻋﻠﻰ ﺑﺴﻂ ﻟﻬﺎ ﺃﺻﺒﻮ ﻭﺁﻭﻱ)
Dalam darul hadits ini terdapat makna (rahasia) yang tersimpan # di atas karpet yang kepadanya kucondongkan diriku dan kujadikan tempat perlindungan.
(ﻋﺴﻰ ﺃﻧﻲ ﺃﻣﺲ ﺑﺤﺮ ﻭﺟﻬﻲ ... ﻣﻜﺎﻧﺎ ﻣﺴﻪ ﻗﺪﻡ اﻟﻨﻮاﻭﻱ)
Kuguling-gulingkan wajahku di atas karpet dengan harapan semoga seluruh wajahku dapat menyentuh # tempat yang dulu pernah disentuh telapak kaki Imam Nawawi.
Dan masih banyak lagi kisah para Sholihin bertabartuk dengan sesama mereka, baik ketika orangnya masih hidup ataupun sudah wafat.
Penutup.
Ini penting bagi mereka yang mengamalkan tabarruk dan mereka yang mengingkarinya. Yang mengamalkan agar tidak salah dalam i'tiqod, yang menginkari agar faham makna dari tabarruk.
Sayyid Muhammad bin 'Alawi, dalam kitab Mafahim berkata:
ينبغي أن نعلم أن التبرك ليس هو إلا توسلا إلى الله سبحانه وتعالى بذلك المتبرك به سواء أكان أثرًا أو مكانا، أو شخصا.
أما الأعيان؛ فلاعتقاد فضلها وقربها من الله سبحانه وتعالى، مع اعتقاد عجزها عن جلب خير أو دفع شر إلا بإذن الله .
وأما الآثار؛ فلأنها منسوبة إلى تلك الأعيان، فهي مُشرفة بشرفها ومكرمة ومعظمة ومحبوبة لأجلها .
وأما الأمكنة؛ فلا فضل لها لذاتها من حيث هي أمكنة، وإنما لما يَحِلُّ فيها ويقع من خير وبر؛ كالصلاة والصيام وجميع أنواع العبادات مما يقوم به عباد الله الصالحون؛ إذ تتنزل فيها الرحمات وتحضرها الملائكة وتغشاها السكينة، وهذه هي البركة التي تطلب من الله في الأماكن المقصودة لذلك .
Perlu kita ketahui bahwa tabarruk (mencari keberkahan) tidak lain adalah bentuk tawassul (mendekatkan diri) kepada Allah SWT melalui sesuatu yang dijadikan sebagai perantara, baik itu berupa peninggalan(bekas), tempat, atau orang.
Adapun benda-benda (orang) yang dianggap memiliki keberkahan, maka itu karena keyakinan akan keutamaan dan kedekatan benda-benda tersebut dengan Allah SWT, serta keyakinan bahwa benda-benda tersebut tidak dapat memberikan manfaat atau menolak mudharat kecuali dengan izin Allah.
Adapun peninggalan atau آثار (atsar), maka itu karena dinisbatkan kepada orang-orang shaleh, sehingga menjadi sesuatu yang mulia dan dihormati karena hubungan dengan mereka.
Adapun tempat-tempat, maka tidak ada keutamaan pada tempat itu sendiri, tetapi karena adanya aktivitas ibadah dan kebaikan di dalamnya, seperti shalat, puasa, dan berbagai jenis ibadah lainnya yang dilakukan oleh hamba-hamba Allah yang shaleh. Di tempat-tempat tersebut, rahmat Allah turun, malaikat hadir, dan ketenangan meliputi. Inilah keberkahan yang diminta dari Allah di tempat-tempat yang dituju untuk tabarruk.
Tabarruk itu berkaitan dengan cinta dengan ahli ilm dan sholah. Maka orang yang tidak punya mahabbah akan hal itu, sudah tentu dia enggan dan tidak sudi melakukannya.
مجرد الجمع والنقل
والله أعلم بالصواب.
Komentar
Posting Komentar