Postingan

ZAKIR NAIK DAN RUSAKNYA HUBUNGAN SOSIAL PARA MUALAF

Saya memiliki banyak teman mualaf, baik dari Kristen pindah ke Islam maupun sebaliknya. Kadang saya berdiskusi dengan mereka. Mengenai banyak hal sensitif, misalnya pandangan mereka kini tentang agama yang dianut sebelumnya. Kebanyakan mereka berpindah agama karena mengukuti agama pasangannya. Mereka pacaran dengan orang yang berbeda agama, lalu saat menikah seorang diantara mereka memutuskan untuk ikut agama pasangannya. Ada juga beberapa orang yang berpindah agama karena lingkungannya. Keluarga dekatnya lebih dulu pindah agama, lalu dia tertarik dengan agama yang dianut keluarga dekatnya tersebut. Artinya orang berpindah agama karena ada proses panjang, bukan ujug-ujug kemudian berpindah. Kebanyakan karena pengaruh orang dekatnya. Sebagian besar mualaf masih memiliki keluarga menganut agama sebelumnya. Mereka tentu berkepentingan untuk hidup rukun dengan orang-orang yang berbeda agama. Sebab jika mereka membenci penganut agama lain, otomatis mereka juga harus mem...

Keinginan Kita

GIMANA cara membedakan keinginan kita, apa itu murni dari hawa nafsu, atau kemungkinan besar ada 'tangan Allah' di balik keinginan itu? Biar nggak keliru penera pannya, ini bener-bener harus presisi dipahaminya ya. Jadi, di dalam hidup kita selalu muncul keinginan. Keinginan apapun. Ingin mobil. Ingin kulkas. Ingin sekolah. Ingin anak kita masuk ke sekolah yang bagus dan mahal. Ingin umroh. Semua keinginan di atas itu baik, kan? Bukan keinginan yang jelas salahnya, seperti ingin berzina, misalnya. Nah, buat seorang yang sedang belajar membersihkan hati dari hawa nafsu, keinginan yang baik saja nggak cukup. Kurang presisi. Sebab hawa nafsu pun bisa menginginkan yang baik juga. Buat orang seperti ini, ayat ini rambu yang harus sangat diperhatikan: //"Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ia akan menyimpangkan kamu dari jalan Allah."// (38 : 26) Dia berusaha untuk tidak mengikuti hawa nafsu dalam hal apapun, karena tidak ingin salah langkah. B...

JANGAN BELAJAR AGAMA DARI AL-QUR'AN DAN TERJEMAHNYA

Ilmu-ilmu untuk memahami ajaran Islam sangatlah banyak dan luas. Ilmu-ilmu tersebut hanya bisa dipelajari dengan cara belajar langsung kepada para ahli agama (kyai, ulama) yang memiliki spesialisasi di bidangnya masing-masing. Jika seseorang mau terus menekuni satu spesialisasi bidang ilmu agama saja, niscaya umurnya akan habis sebelum penguasaan ilmu tersebut sempurna. Belajar ilmu-ilmu terkait agama hanya melalui buku-buku/kitab-kitab tanpa guru (syaikh) yang berilmu mendalam, yang berpengalaman, yang mampu membimbingnya berpotensi terjerumus dalam pemahaman agama yang sesat dan setidaknya sempit. Belajar agama secara otodidak itu, tanpa disadari telah membawanya berada di jalan yang dianggapnya benar. Padahal boleh jadi sebaliknya, ia sedang berjalan cepat menapaki pemahaman agama yang salah karena salah paham yang akibatnya bisa membahayakan kemanusiaan. Sudah berapa banyak bom bunuh diri dengan alasan mengamalkan ayat-ayat tentang jihad dalam situasi damai...